Monday, 31 January 2011

ANALISIS KESOPANAN TINDAK TUTUR



Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mengomunikasikan pikiran, perasaan, gagasan, maksud, dan perasaan secara langsung melalui suatu tindak tutur. Penutur dan pendengar yang terlibat dalam peristiwa itu umumnya saling bekerja sama. Secara tidak langsung, antara penutur dan mitra tutur (lawan bicara) telah melakukan interaksi sosial.
Lazimnya, dalam sebuah interaksi sosial, gagasan mengenai tingkah laku yang sopan atau etiket diberlakukan secara tegas. Kebanyakan yang orang katakan atau komunikasikan ditentukan oleh hubungan sosialnya. Maka dari itu, ada hal-hal di luar bahasa yang mempengaruhi kebermaknaan tindak tutur kita
Tanpa disadari, ada nilai-nilai tertentu yang mengikat suatu percakapan antara penutur dan mitra tutur. Dalam banyak kasus, interpretasi mitra tutur terhadap hal yang kita tuturkan melibatkan penilaian, seperti ‘kasar’, ‘tidak pengertian’, dan ‘tenggang rasa’.
Sebuah interaksi sosial akan terjalin dengan baik jika ada syarat-sayarat tertentu terpenuhi, salah satunya adalah kesadaran akan bentuk sopan santun. Bentuk sopan santun dapat diungkapkan dengan berbagai hal. Salah satu penanda sopan santun adalah penggunaan bentuk pronominal tertentu dalam percakapan. Di dalam bahasa Indonesia, kita jumpai Anda dan beliau untuk menghormati orang yang diajak berbicara. Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu percakapan ditijnjaui dari tingkat kesopanan sosialnya antara lain, usia, kekuasaan, tingkat formalitas keadaan, dan wilayah bahasa.
Namun secara khusus, pergaulan antar mahasiswa yang menjadi sampel pada penelitian ini, menunjukkan sebuah perilaku tertentu yang mungkin tidak ditemukan di daerah diluar lingkungan partisipan.
(1)
Partispan 2: Selesai ma ko tugas pragmatikmu ?
Partisipan 3: Belum pi, tidak ada pi rekamanku ?

Sebagai penutur yang tinggal di lingkungan Sulawesi Selatan, dengan mudah dapat ditarik kesimpulan bahwa partisipan 2 dan partisipan 3 pada percakapan (1) mempunyai kedudukan yang sama. Hal ini dapat dilacak pada penggunaan penanda pronominal ‘ko’. Dalam interaksi sosial masyarakat Sulawesi Selatan, deiksis persona ‘ko’ mencirikan bahwa interval kekerabatan antara partisipan yang satu dengan partisipan lainnya hampir tidak ada. Dengan kata lain, dapat diasumsikan bahwa partispan 2 dan partisipan 3 berada pada usia yang relatif sama, tidak ada yang memiliki kekuasaan berlebih, dan situasi tutur berlangsung santai.
Bentuk lain sopan santun adalah pengungkapan suatu hal dengan cara tidak langsung. Hal ini berkaitan dengan teori strategi kesopanan positif dan teori strategi kesopanan negatif. Akan tetapi, pada contoh transkripsi percakapan yang dianalisis, konteks pembicaraan dilakukan secara langsung, artinya permohonan dilakukan secara eksplisit dari partisipan yang satu dengan partisipan lainnya tanpa menggunakan strategi kesopanan positif pada umumnya.
           
(2)
            Partisipan 1: Anjus, nyontek dulue!
            (Partisipan 1 memohon pada partisipan 3)
           
Di dalam penggalan percakapan (2) di atas , partisipan 1 tanpa ada perasaan ragu-ragu memohon secara langsung agar partisipan 3 memenuhi keinginan partisipan 1. Hal ini tentu saja melanggar teori kesopanan positif yang mengharuskan pemohon mendahului tindak tuturnya dengan basa-basi untuk memenuhi tujuan umumnya. Tapi, pada kasus ini, partisipan 1 tidak sepenuhnya melanggar teori kesopanan. Karena partsipan 1 memiliki interval derajat keakraban yang tidak begitu jauh dengan partisipan 3. Walaupun tidak didahului dengan basa-basi, partisipan 1 dapat dikategorikan tidak melanggar kesopanan dalam berinteraksi.
            Dalam teori lain, bentuk sopan santun juga dikenal istilah ‘wajah’. Wajah disini tidak mengacu pada bentuk rupa seseorang, melainkan mencitrakan wujud pribadi seseorang. Pada teori sopan santun, dikenal istilah wajah positif dan wajah negatif. Wajah positif dimaknai sebagai kebutuhan seseorang untuk dapat diterima di masyarakat, sedangkan wajah negatif dimaknai sebagai kebutuhan untuk tidak diganggu orang lain. 

                        (3)
                        Partisipan 1: Anjus, nyontek dulue!
Partisipan 2: Masa sich nyontek ?

            Pada penggalan percakapan di atas, partisipan 1 ingin meminta sesuatu dari partisipan 3 (dalam percakapan disebut sebagai Anjus), tetapi partisipan 2 mencegahnya. Menurut teori wajah, partisipan 1 melakukan tindakan yang menganggu wajah negative partisipan 3, lalu partisipan 2 mengatakan sesuatu untuk mengurangi efek ancaman tersebut, dalam hal ini tindakan partisipan 2 disebut tindakan penyelamatan wajah. Tindakan penyelamatan wajah yang dilakukan partisipan 2 bertujuan mengekspresikan permintaan maaf secara tidak langsung kepada partisipan 3 atas pemaksaan yang dilakukan oleh partisipan 1.
            Dari beberapa analisis di atas, diketahui bahwa pada pergaulan antar mahasiswa yang menjadi sampel, terdapat beberapa kaidah kesopanan sosial dalam berinteraksi. Dengan usia yang relatif hampir sama, penggunaan deiksis pronominal ‘ko’, yang notabene melanggar teori kesopanan, namun dianggap sopan oleh semua partisipan. Selain itu, teori ketidaklangsungan juga tidak begitu mengganggu ranah kesopanan di antara mereka. Hal ini terlihat pada salah satu bagian percakapan ketika partisipan 1 tanpa ragu-ragu meminta secara eksplisit kepada partisipan 3 untuk melakukan sesuatu untuknya. Namun, untuk menghargai mitra tutur, sampel juga merasa perlunya meminta maaf ketika menyadari bahwa yang ia katakan telah mengganggu wajah negatif mitra tutur. Hal ini ditunjukkan dengan adanya tindakan penyelamatan wajah yang dilakukan oleh partisipan 2.  

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa......Silahkan komentar jika artikel ini bermanfaat dan maaf komentar yang macam - macam saya hapus

 
Powered by DIAN ISNAN RASBURHANY