Wednesday, 2 February 2011

Ketika Kritikus Sastra Diperlukan


Oleh Aminullah HA Noor

Benarkah kritikus sastra merupakan "makhluk langka" sedemikian sehingga hari-hari ini lahir fenomena lebih banyaknya lahir karya sastra ketimbang kritik sastra? Tidak berbahayakah bila kondisi ini dibiarkan terlalu lama?
Sudah cukup lama terlahir asumsi bahwa semakin banyak karya sastra dibuat, akan semakin memperkaya khazanah kesusasteraan yang ada. Khzanah yang semakin kaya pun diasumsikan akan memperkaya aspek budaya bangsa kita. Pernakah ada yang menguji kedua asumsi ini? Tidak pernahkah dipertanyakan bahwa khazanah yang semakin kaya itu justru akan semakin memperlebar jarak antara publik sastra (masyarakat) dengan para sastrawannya sedemikian sehingga justru masyarakat semakin tidak bisa memahami arus pemikiran para sastrawan? Soalnya, daya kritis masyarakat tentu berbeda dengan daya kritis sastrawan yang terus-menerus menggali khazanah ilmu dan kehidupan untuk berkarya.
Maka jelas, khazanah sastra yang semakin kaya tersebut justru akan lebih berenergi, apabila ada kritikus. Soalnya kritikus akan melahirkan suatu komunitas tertentu yang secara intens membicarakan karya-karya sastra (misalnya dalam suatu wacana diskusi). Untuk apa? Kelak, dengan ketajaman mata pisau analisis dan apresiasinya, karya-karya sastra yang tercipta akan dikupas untuk mempermudah komunikasi apresiasi antara para sastrawan dan para penikmat sastra (publik sastra). Mereka akan membukakan mata batin para pembaca sastra. Percayakah Anda akan asumsi ini? Tentu perlu diuji juga. Tetapi, segeralah dipertimbangkan bahwa sastra terus-menerus berkembang.
Era Reformasi dipertanyakan sekaligus dihipotesiskan oleh sastrawan H.Usep Romli HM (Pikiran Rakyat) sebagai era kebangkitan para pengarang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Hipotesis itu mengemuka setelah H.Usep Romli HM (untuk selanjutnya akan disebut Usep) menyaksikan beberapa kecenderungan faktual bahwa sebagai salah satu akibat tergulingnya Orde Baru telah membawa semacam angin segar kepada para sastrawan Lekra untuk "mengibarkan bendera" kesastrawanan - kepengarangan mereka - yang sesungguhnya: berkualitas; dan dicintai banyak pembaca. Sastrawan besar Lekra seperti Pramudya Ananta Toer dan Putu Oka Sunanta yang semasa Orde Baru berjaya tidak mampu secara bebas menerbitkan karya mereka, di akhir riwayat Orde Baru - kalau boleh disebut demikian - justru tampil seakan habis-habisan. Novel yang mereka susun dan terbitkan laris bak kacang goreng.
Masalah seperti ini jelas perlu dikaji oleh para kritikus sastra. Kajian terhadap ini karya sastra mereka perlu segera dilakukan. Perlu dikaji, benarkah era reformasi merupakan era kebangkitan para pengarang Lekra? Bagaimana dengan para pengarang di era reformasi yang pro reformasi itu sendiri?
Kritikus sastra perlu hadir secara on time. Mereka harus segera membaca dan mengkomunikasikan hasil apresiasinya dalam sebuah wacana kritik sastra kepada publik. Kritikus harus lahir seiring dengan diciptakannya karya-karya sastra. Mereka harus mengevaluasi secara kontinyu. Jadi, bukan evaluasi yang compang-camping. Evaluasi jenis yang terakhir disebut ini acap kali dilakukan para kritisi pada setiap mengakhiri satu tahun perjalanan. Mereka mencoba mengevaluasi perkembangan sastra selama setahun terakhir. Tentu bukan tidak boleh hal itu dilakukan. Tetapi bila evaluasi hanya dilakukan setahun sekali, hasilnya tentu compang-camping. Akan jauh berbeda bila evaluasi itu dilakukan selama setahun penuh. Di akhir tahun cukup sekadar memberikan simpulan atau ringkasan yang detailnya telah dibahas selama setahun berjalan. Masalahnya, apakah tulisan kritik yang setahun berjalan pun sudah cukup mampu menampung masalah secara utuh?
Belum tentu juga. Soalnya, sebagai hasil evaluasi yang singkat - karena dibatasi oleh kemampuan koran itu sendiri yang hanya bisa menampilkan tulisan singkat -, memang tulisan itu berisiko memiliki beberapa keterbatasan dimensi amatan, dll. sedemikian sehingga membuat tulisan menjadi "seakan" compang-camping dan melahirkan banyak pertanyaan di kalangan pembaca kritis. Keterbatasan itu memang hampir sudah menjadi ciri tulisan-tulisan pendek: ditulis oleh siapapun sulit untuk mengubah keterbatasan itu menjadi keleluasaan. Akhirnya kesannya, pembaca acap kali merasakan ada sesuatu yang kurang. Kepuasan hanya akan diperoleh bila pembaca mau mengikuti tulisan kesusasteraan dan perkembangan seni-budaya pada umumnya secara kontinyu yang di Koran-koran dan majalah. Bila pembaca hanya mengandalkan kepada hasil membaca laporan akhir tahun saja, niscaya pembaca sebagai publik sastra yang banyak berharap, tidak akan memperoleh kepuasan dan kejelasan makna. Membaca laporan akhir tahun saja hanya akan memperoleh sesuatu yang parsial. Mungkin malah disertai beberapa deviasi-deviasi dari kenyataan yang sebenarnya telah terjadi. Bila ia hendak mengambil keputusan untuk melakukan penilaian terhadap perkembangan sastra, maka premis-premis yang dijadikan acuannya seakan prematur.
Secara agak gegabah dan kurang disuka banyak penggiat sastra, pengamat yang berdata compang-camping ini akan mudah saja mengatakan bahwa perkembangan sastra Indonesia dan daerah nyaris stagnan. Bila hal itu diucapkan pelawak, tentu sah-sah saja. Tetapi bila diucapkan pengamat sastra, atau pengamat seni umumnya, hal itu menjadi persoalan lain.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa......Silahkan komentar jika artikel ini bermanfaat dan maaf komentar yang macam - macam saya hapus

 
Powered by DIAN ISNAN RASBURHANY