Monday, 31 January 2011

KRITIK SASTRA


Kritik sastra adalah penilaian tentang baik buruknya sesuatu yang terdapat dalam karya sastra. Dalam kritik dikemukakan segi-segi yang baik dan segi-segi yang kurang baik dari karya sastra yang dikritik, sehingga sangat berhubungan dengan sebuah penilaian. Penilaian yang dikemukakan harus bersifat obyektif dan didasarkan atas kriteria tertentu. Penilaian terhadap karya sastra itu seharusnya jangan dinilai berdasarkan ukuran-ukuran di luar sastra, seperti filsafat, ilmu sosial, atau bahkan ukuran dengan ilmu politik, dan sebagainya. Akan tetapi hendaklah dinilai dengan metode sastra yang murni, artinya, apa hakikat dari karya sastra itu sendiri yang menurut Rene Wellek adalah paham absolutivisme dan relativisme. Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, hendaknya orang kembali kepada pertimbangan karya sastra berdasarkan hakikat metode sastra itu dengan melihat fungsi karya sastra yang dikemukakan oleh Horace, yaitu dulce et utile (menyenangkan dan berguna). Maksudnya, karya sastra itu dapat memberikan kesenangan dan kegunaan yang berupa keindahan dan pengalaman-pengalaman jiwa yang bernilai tinggi baik secara langsung maupun tidak langsung lewat para penafsirnya. Penilaian ini sangat berpengaruh terhadap karya-karya lain yang akan diciptakan oleh sastrawan/pengarang. Pada hakikatnya kritik sastra ini dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap karya sastra yang dianggap bermutu atau tidak, indah atau tidak indahnya bagi pembaca itu sendiri, Kritik sastra ini dapat memberikan dampak bagi orang atau aspek-aspek yang terlibat di dalamnya, sepertib pengarang, pembaca/masyarakat, dan bidang keilmuan tertentu.
Dalam bidang keilmuan, karya-karya sastra yang terus bertambah meminta untuk dipertimbangkan (dikritik), digolong-golongkan, dan disusun berdasarkan perkembangan sejarahnya sehingga dapat memberikan sumbangannya dalam hal menyusun teori sastra. Sedangkan dalam bidang ilmu sejarah sastra, seorang kritikus dapat menggolongkan seorang sastrawan ke dalam angkatan-angkatan atau periode-periode berdasarkan mutu karya satranya. Namun, persoalan itu belum dapat diatasi karena belum ada penyelidikan karya sastra yang dilakukan secara mendalam. Penyelidikan yang ditemukan hanya berupa fragmen-fragmen saja, bukan hal-hal yang penting seperti analisis sastra, penyelidikan gaya, dan sebagainya yang berhubungan dengan teori dan kritik sastra. Di Indonesia, penyelidikan tentang karya sastra belum banyak, karena kritikus hanya menilai daris segi-segi yang masih gelap dalam karya sastra atau biografinya. Selain itu, kekurangan kririk sastra yang lain adalah analisisnya baru sampai pada tahap objektivasi atau impressionistik. Artinya, hanya menganalisis hal yang menjadi ciri khas karya sastra tersebut.  
Dalam kritik dikemukakan pula bagaimana mencapai atau menghasilkan karangan yang bermutu, oleh karena itu, kritik sangat perlu dalam usaha mencapai karangan yang bermutu sehingga memberikan penerangan dan  masyarakat memiliki kemampuan pemahaman terhadap karya sastra. Bagi kritikus, dapat menjadi pengarah kesusastraan dengan mempertinggi selera sastra yang baik. Ia dapat pula menunjukkan daerah-daerah atau lapangan-lapangan baru yang belum pernah digarap oleh sastrawan lain. Selain itu, seorang kritikus dapat menunjukkan poenyelesaian-penyelesaian masalah yang dihadapi masyarakat dengan mengangkat masalah itu ke dalam karya sastranya.
            Membuat kritik karya sastra bukan merupakan pekerjaan yang mudah, karena corak karya sastra mencerminkan ciri pengarang dalam menulis karyanya, terutama pandangan hidup dan ciri-ciri umum angkatan itu. Selain itu, kritikus juga harus mengetahui teori sastra, terutama unsur-unsur intrinsik, ekstrinsik, dan proses penciptaan karya sastra. Walaupun pengertian umum mengkritik berarti memberikan penilaian, terutama menunjukkan kelemahan/kekurangan suatu karya sastra tetapi juga mencari keunggulan/kelebihan dalam kartya sastra itu.
Kritik sangat berguna untuk memberikan umpan balik bagi pengarang dalam menghasilkan karya berikutnya agar pengarang dapat menciptakan karya sastra setinggi mungkin dan mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik. Oleh karena itu pengarang harus mawas diri dan belajar dari kekurangannya.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa......Silahkan komentar jika artikel ini bermanfaat dan maaf komentar yang macam - macam saya hapus

 
Powered by DIAN ISNAN RASBURHANY