Monday, 31 January 2011

Selamat Datang Retorika - Mampuslah Budaya Diskusi


Selamat Datang Retorika
Mampuslah Budaya Diskusi…

Diskusi merupakan hal yang tidaklah asing lagi di dalam dunia mahasiswa yang ‘seharusnya intelektual’. Mengapa demikian? Fakta membuktikan bahwa setiap pelajar yang mengaku dirinya mahasiswa haruslah memiliki kemampuan berbicara yang mampu memengaruhi lingkungan sekitar. Dalam buku panduan setiap mahasiswa, terkandung sebuah pemeo yang menjadi amanat tersirat dari mayarakat yang membentuknya, yaitu ‘agent of change’ yang jika ditranslatekan kira-kira artinya adalah ‘agen perubahan’. Untuk mengemban tugas tersebut, setiap mahasiswa dibekali dengan kemampuan berpikir yang ‘canggih’ serta keterampilan menyampaikan sesuatu menggunakan medium bahasa dengan tujuan membentuk ‘masyarakat sosialis sepenuhnya.’(kutipan salah satu lagu mars mahasiswa)

Apakah bahasa itu?
Permasalahan selanjutnya adalah bahasa. Apakah bahasa itu? Bahasa adalah penemuan manusia yang paling menakjubkan yang mampu menunjukkan bahwa manusia itu sungguh-sungguh ‘sapiens’ (bijaksana, berbudi) hanya karena ia ‘loquens’ (bertutur), yakni karena ia dapat belajar bercakap (Paul Chauchard dalam Baryadi, 2004: 1). Setiap manusia secara fitrah memiliki kemampuan berbahasa. Dengan bahasa, manusia dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Dengan bahasa juga, setiap manusia mampu merubah sebuah system yang selama ini berlaku di masyarakat. Bahasa yang dimaksudkan disini adalah bahasa yang mampu memengaruhi pendapat, sikap, dan tindakan orang lain. Lalu, apakah hanya dengan berbicara, kita sudah dapat dikatakan berbahasa? Pada dasarnya berbicara dan berbahasa tidak membentuk wujud yang berbeda. Keduanya merupakan perbuatan menggunakan bunyi-bunyi bahasa yang terepresentasikan melalui penerjemahan sistem simbol yang bermakna. Hal itu, menunjukkan bahwa bahasa digunakan dalam percakapan karena bahasa merupakan kombinasi kata yang diatur secara sistematis sebagai alat komunikasi (Wibowo, 2003: 3). Namun, pengaplikasiannya menunjukkan bahwa berbicara dan berbahasa adalah sesuatu yang berbeda secara keseluruhan. Berbahasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding berbicara. Hal inillah yang dituntut ada pada diri setiap mahasiswa, kemampuan berbahasa yang tidak sekadar berbicara tanpa tujuan dan maksud.
Dalam perkembangan bahasa selanjutnya, para penduduk Yunani kuno yang pada saat itu mengalami ‘zaman penjajahan’ menciptakan sebuah terobosan dalam berbicara yang kini dikenal dengan studi retorika. Studi retorika saat itu diciptakan untuk melawan para raja yang berkuasa dengan kejam. Mereka mampu membangun kekuatan yang cukup besar untuk menggulingkan raja hanya dengan memanfaatkan kemampuan berbahasa yang membakar semangat juang rakyat. Dan akhirnya, mereka menang.

Retorika itu berbahasa, bukan berbicara!
Bahasa merupakan media retorika, sedangkan retorika sering digunakan sebagai ilmu berbicara yang diperlukan setiap orang (Rakhmat, 2001: 2). Ketika berbicara di depan umum, mahasiswa juga membutuhkan ilmu retorika untuk menunjang kualitas pembicaraannya. Selain itu, retorika digunakan untuk meyakinkan pendengar akan kebenaran gagasan/topik yang dibicarakan. Kemudian selanjutnya pada ilmu retorika yang harus digunakan, yaitu metode dan etika retorika.
Di dalam perkuliahan, tidak banyak yang memiliki keterampilan berbahasa maupun beretorika dengan baik dan efektif. Banyak orang yang berdalih bahwa dalam berbicara sudah cukup bila pendengarnya dapat mengerti apa yang dimaksudkannya. Namun mereka belum dapat memastikan kadar kemengertian pembicaraannya. Menurut Supratman (1982: 20) seorang pembicara yang baik, seharusnya menyadari adanya beberapa kemungkinan yang terjadi seperti pendengarnya mengerutkan dahi sebagai tanda bahwa pembicaraannya menyulitkan pendengar dan kurang komunikatif, serta pendengarnya itu gelisah, tidak sabar, dan ingin pembicaraannya segera diakhiri. Pembicara sebaiknya menyadari bahwa pembicaraannya itu mengesankan atau tak berbekas. Pembicara sebaiknya memiliki kadar daya tarik, kadar daya mengasyikkan, dan kadar kesan yang tinggi. Selain itu, kita juga harus memerhatikan beberapa aspek non kebahasaan lainnya. Seperti etika menghormati lawan bicara dan kesediaan menghargai pendapat orang lain.
Jadi, beretorika bukan hanya sekadar berbicara mengeluarkan pendapat, melainkan juga harus dilakukan dengan menarik agar lawan bicara terkesan dengan gagasan yang disampaikan. Selain itu, dalam beretorika juga dituntut kesopanan dalam berbicara, seperti menghormati orang lain dan pendapat yang disampaikannya.

Retorika vs Diskusi
Pada hakikatnya, diskusi (dalam perkuliahan) dan retorika adalah dua hal yang berkaitan erat. Karena dengan retorika, diskusi yang dilakukan akan lebih menarik dan memancing sifat keintelektualan mahasiswa. Dengan begitu, diharapkan muncul terobosan-terobosan baru yang mampu mengubah system yang ada menjadi lebih laik.
Namun, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Begitu banyak mahasiswa yang asal nyerocos begitu saja. Berbicara tanpa memerhatikan orang lain di sekitarnya. Selain itu, pada banyak kasus juga dijumpai bahwa materi yang disampaikan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dengan kata lain, mereka berbicara tanpa dasar pemikiran yang jelas dan kadang menyesatkan diri mereka sendiri. Ada anggapan bahwa mereka harus berbicara pada setiap kesempatan diskusi tanpa memerhatikan bobot materi yang disampaikan. Pendapat seperti ini sungguh kontradiksi dengan esensi retorika yang disampaikan Aristoteles, yaitu retorika digunakan untuk menyampaikan kebenaran.
Keterampilan retorika bukan hanya banyak bicara, bukan hanya fasih dan lancar. Terampil berbicara tidak hanya disimak dari validitas secara kuantitatif, tetapi juga harus dapat disimak melalui kadar kualitatifnya. Berbicara yang efektif seyogyanya menyenangkan, memiliki daya tarik, mengasyikkan, ,mengesankan, mencapai tujuan secara jelas serta mengundang rasa simpatik pendengar.
Di samping itu, masalah yang ada pada diri setiap manusia juga masih menempel dalam diri mahasiswa adalah egoisme. Ada kecenderungan untuk mempertahankan pendapat yang dimilikinya dan tidak mau mendengar apalagi menerima gagasan orang lain. Mereka tidak segan-segan beradu mulut dengan rekan yang lain hanya untuk menunjukkan bahwa ‘pendapat’ yang diutarakannya adalah hal yang paling benar. Forum diskusi mereka ubah laiknya ring tinju tempat mereka beradu kekuatan berbicara. Padahal esensinya, diskusi bertujuan untuk menyatukan setiap pemikiran yang ada di dalamnya. Sesuatu yang sungguh miris.

Jadi?
Apakah budaya diskusi semacam ini masih patut untuk dipertahankan? Sebuah system yang memenjarakan setiap mahasiswa dalam pikirannya sendiri dan melahirkan orang-orang yang hanya pintar ‘berdalih’ dan berbicara tanpa ada rasa tanggung jawab? Sesuatu yang harus kita pikirkan bersama
Perlu dipersiapkan dengan baik dan cermat, rekonstruksi format diskusi yang mendukung penggunaan retorika di dalamnya untuk menghasilkan ‘mahasiswa-mahasiswa yang berbicara intelektual’.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa......Silahkan komentar jika artikel ini bermanfaat dan maaf komentar yang macam - macam saya hapus

 
Powered by DIAN ISNAN RASBURHANY