Monday, 31 January 2011

TAHAP PERKEMBANGAN BAHASA PERTAMA

a)    Tahap-tahap umum perkembangan bahasa anak
1.    Reflexsive Vocalization
Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeuarkan suara tangisan yang masih berupa refleks. Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.
2.    Babling
Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan atau perasaan si bayi.
3.    Lalling
Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s/d 6 bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang diulang-ulang, seperti: ³ba«.ba«, ma..ma«.´
4.    Echolalia
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan ia mulai meniru suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta sesuatu.
5.    True Speech
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.

b)   Perkembangan Bahasa menurut Stern
Suami istri Clara dan William Stern (dalam Kartono, 1990) membagi perkembangan bahasa anak yang normal dalam empat periode perkembangan , yaitu :
i.     Prastadium. Pada tahun pertama : meraban, dan kemudian menirukan bunyi-bunyi. Mula-mula menguasai huruf hidup, kemudian huruf mati, terutama huruf-huruf bibir. Lalu berlangsung proses reduplikasi atau pengulangan suku kata seperti : ma-ma, pa - pa, mam - mam, uk - uk, dan lain sebagainya.
ii.   Masa pertama (kurang lebih 12 -18 bulan) : stadium kalimat- satu-kata. Satu perkataan dimaksudkan untuk mengungkapkan satu perasaan atau satu keinginan. Umpama kata ³mama´, dimaksudkan untuk : ³Mama, dudukkanlah saya di kursi itu! Mama, saya minta makan.´
iii.  Masa kedua (kurang lebih 18-24 bulan) : anak mengalami stadium-nama. Pada saat ini timbul kesadaran bahwa setiap benda mempunyai nama. Jadi ada kesadaran tentang bahasa. Anak mengalami peristiwa ³lapar-kata´ : yaitu mau menghafal secara terus menerus kata-kata baru, dan ingin memahami artinya. Perbendaharaan kata anak menjadi semakin bertambah dengan cepatnya dan anak selalu merasa ³haus-tanya´ dengan jalan mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya. Pada saat anak mulai meninggalkan kalimat-satu-kata, lalu menggunakan dua atau tiga kata-kata sekaligus. Mula-mula ia mengucapkannya dengan tergagap-gagap : lambat laun kalimatnya terungkapkan lebih lancar. Mulailah muncul kata- kata benda dan kata-kata kerja, yang disusul dengan kata sifat. Baru sesudah anak berusia 3 tahun, anak mulai menguasai kata- kata penghubung.
iv.  Masa ketiga (kurang lebih 24-30 bulan) : anak mengalami stadium-flexi (flexi, flexico = menafsirkan, mengakrabkan kata- kata). Lambat laun anak mulai menggunakan kata-kata kerja yang ditafsirkan, yaitu kata-kata yang sudah diubah dengan menambahkan awalan, akhiran, dan sisipan. Bentuk kalimat - kalimat masih tunggal. Kemudian anak mulai menggunakan kata-kata seru, kalimat bertanya, dan kalimat penjelasan. Lalu bisa merangkaikan kalimat-kalimat pendek. Biasanya bentuk pertanyaan ditujukan pada pengertian nama benda-benda, letak benda (di mana), dan apakah benda itu.
v.    Masa keempat (mulai usia 30 bulan ke atas) : stadium anak kalimat. Anak mulai merangkaikan pokok pemikiran anak dengan penjelasannya, berupa anak kalimat. Pertanyaan anak kini sudah manyangkut perhubungan waktu (kapan, bila), dan kaitan sebab ± musabab (mengapa).
c)    Tahap perkembangan bahasa menurut Aitchison
·      Tahap 1: Mendengkur
Tahap ini mulai berlangsung pada anak usia sekitar enam minggu. Bunyi yang dihasilkan mirip dengan vokal tetapi tidak sama dengan bunyi vokal orang dewasa.
·      Tahap 2: Meraban
Tahap ini berlangsung ketika usia anak mendekati enam bulan. Tahap meraban merupakan pelatihan bagi alat-alat ucap. Vokal dan konsonan dihasilkan secara serentak.
·      Tahap 3: Pola intonasi
Anak mulai menirukan pola-pola intonasi. Tuturan yang dihasilkan mirip dengan yang diucapkan ibunya.
·      Tahap 4: Tuturan satu kata
Pada umur satu tahun sampai delapan belas bulan anak mulai mengucapkan tuturan satu kata. Pada usia ini anak memperoleh sekitar lima belas kata meliputi nama orang, binatang, dan lain- lain.
·      Tahap 5: Tuturan dua kata
Umumnya pada usia dua setengah tahun anak sudah menguasai beberapa ratus kata. Tuturan hanya terdiri atas dua kata.
·      Tahap 6: Infleksi kata
Kata-kata yang dianggap remeh dan infleksi mulai digunakan. Dalam bahasa Indonesia yang tidak mengenal istilah infleksi, mungkin berwujud pemerolehan bentuk-bentuk derivasi, misalnya kata kerja yang mengandung awalan atau akhiran.
·      Tahap 7: Bentuk Tanya dan bentuk ingkar
Anak mulai memperoleh kalimat tanya dengan kata tanya seperti apa, siapa, kapan, dan sebagainya. Di samping itu anak juga sudah mengenal bentuk ingkar.
·      Tahap 8: Konstruksi yang jarang atau kompleks
Anak sudah mulai berusaha menafsirkan meskipun penafsirannya dilakukan secara keliru. Anak juga memperoleh kalimat dengan struktur yang rumit, seperti pemerolehan kalimat majemuk.
·      Tahap 9: Tuturan yang matang
Pada tahap ini anak sudah dapat menghasilkan kalimat-kalimat seperti orang dewasa.
(Sumarlin, 2010)

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa......Silahkan komentar jika artikel ini bermanfaat dan maaf komentar yang macam - macam saya hapus

 
Powered by DIAN ISNAN RASBURHANY