Wednesday, 2 February 2011

AKSI NYATA WUJUDKAN RETORIKA BERMAKNA

AKSI NYATA WUJUDKAN RETORIKA BERMAKNA
Buat halaman ini dlm format PDF
Cetak halaman ini
Kirim halaman ini ke teman via E-mail


Upaya pemberdayaan penduduk dan keluarga miskin telah menjadi retorika politik yang gegap gempita, tetapi justru kepekaan kita makin tipis. Pertemuan global yang baru-baru ini diselenggarakan di Geneva mencatat bahwa tingkat kemiskinan dunia justru naik menjadi sekitar 1,3 milyar. Sungguh sangat menyedihkan, menurut Tuan Francesco Paolo Fulci, Presiden Ecosoc, dari penduduk miskin itu ada sekitar 840 juta adalah buta huruf, 800 juta tidak mempunyai fasilitas kesehatan yang memadai, dan 600 juta mempunyai tempat tinggal kumuh.

Angka-angka itu tidak menimbulkan iba apa-apa. Perhatian dan sumbangan dunia terhadap upaya pengentasan kemiskinan masih tetap jauh dari memuaskan, bangsa-bangsa tertinggal di dunia seakan lari ditempat ! Masyarakat, karena berbagai alasan, makin kurang peduli. Angka-angka dunia yang biasanya mengejutkan dan menggerakkan kepedulian masyarakat luas kurang mempunyai makna lagi. Laporan terakhir PBB itu tidak menjadi judul berita di dunia. Bahwa mayoritas penduduk miskin itu adalah perempuan dan anak-anak dan berada di negara berkembang, lewat biasa-biasa saja. Perempuan dan anak-anak yang paling menderita itu menjadi miskin karena diskriminasi, kekerasan dan penyakit. Dukungan dari Deklarasi para Pemimpin Dunia tentang Anak-anak di tahun 1990-an yang menyebutkan bahwa akhir abad ke-20 adalah "dekade perang yang tidak diumumkan terhadap perempuan, remaja dan anak-anak" juga lewat tanpa kesan Dalam suasana menjelang Sidang Tahunan MPR RI bulan Agustus nanti, patutlah kita merenung apa saja yang telah kita kerjakan untuk mengentaskan jutaan keluarga miskin dari lembah yang nestapa tersebut. Langkah-langkah kecil dan nyata sekecil apapun, aksi nyata patut kita tonjolkan sebagai pemacu dan pemicu langkah-langkah kecil lainnya. Aksi nyata tersebut harus bisa mengisi dan mewujudkan retorika bermakna yang disampaikan oleh para pemimpin dan politisi yang memang sejak dulu memihak rakyat. Aksi-aksi pembangunan yang nyata itu harus sama terbukanya dengan retorika bermakna yang nyata-nyata membela rakyat. Dengan adanya kesejalanan dari retorika politik yang transparan dan aksi nyata yang sama transparannya, maka kejujuran perjuangan politik akan bisa membawa kepermukaan partai politik manakah yang wakil-wakilnya benar-benar memperjuangkan aspirasinya secara konsisten. Kebersamaan itulah yang dikemudian hari diharapkan dapat menarik kecintaan rakyat akan sistem demokrasi dan partai politik yang menjadi pilihannya. , 23% mempunyai anak lebih dari empat orang, dan 15,4% mempunyai jarak kelahiran antar anak-anaknya kurang dari dua tahun. Kejadian aborsi cukup merebak.
Minggu lalu kita berikan acungan jempol kepada upaya Panitia Ujian UMPTN untuk anak-anak keluarga miskin mengikuti ujian diseluruh Indonesia dengan bantuan dana dari Yayasan Supersemar dan Damandiri. Upaya itu kelihatannya kecil, tetapi dalam dua tahun saja ada sekitar 3.000 siswa yang mendapat dukungan untuk mengembangkan cita-citanya meraih masa depan yang lebih gemilang. Minggu ini untuk kedua kalinya Yayasan Dharmais bekerja sama dengan Pemerintah Daerah di Bogor, Kulon Progo, dan Magetan, atau lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan di tiga kabupaten itu berusaha menyelenggarakan pesantren khusus untuk puluhan atau ratusan anak jalanan, anak terlantar, atau anak-anak yang kurang beruntung. Dalam acara pesantren khusus itu anak-anak yang kurang beruntung itu mendapat bimbingan keagamaan untuk memperkuat iman dan taqwanya serta berbagai latihan ketrampilan untuk merubah nasib dan masa depannya. Kepada para santri dari Bogor diberikan ketrampilan membuat sepatu bayi dan tas untuk segala macam keperluan. Para pemuda dan pemudi dari Kulon Progo diberikan bekal ketrampilan menjahit pakaian anak-anak, pakaian seragam dan keperluan jahit menjahit lainnya. Para pemuda dari Takeran Magetan diberikan latihan ketrampilan ayaman dari bambu, kerajinan lain dan jahit menjahit. Sementara rombongan kedua dari para pemuda itu sedang nyantri mengikuti pendadaran mental dan latihan ketrampilan, rombongan pertama para pemuda itu langsung diterjunkan kelapangan untuk mengikuti pembinaan lanjutan dengan dipondokkan pada tempat-tempat kerja para pengusaha kecil menengah di kabupaten yang bersangkutan. Sungguh menakjubkan, untuk wilayah Bogor, kader-kader itu mendapat dukungan dari para pengusaha kecil dan menengah yang sangat peduli. Beberapa rombongan itu ditempatkan pada para pengrajin sepatu bayi dan anak-anak serta pengrajin berbagai macam tas, yaitu Bapak Supendi (Pepen), Bapak Sugandi dan Bapak Dedy . Bapak Supendi dan Bapak Sugandi adalah tokoh-tokoh pengusaha desa sederhana yang mempunyai komitmen yang sangat tinggi dalam upaya pengentasan kemiskinan. Bapak Pepen adalah seorang pengrajin menengah yang sederhana dan mempunyai sejarah hidup yang cukup unik. Beliau pernah "menggelandang" mencari sesuap nasi di Jakarta dan mungkin juga kota-kota besar lainnya. Bapak Sugandi adalah seorang desa yang jauh lebih sederhana, tinggal juga dirumah sederhana yang sekaligus merangkap bengkelnya, dipinggiran Kabupaten Bogor. Bapak Dedy adalah seorang pengusaha sederhana yang mampu memproduksi berma cam-macam tas.
Para peserta yang baru saja "lulus" dari latihan selama 45 hari itu langsung "seakan-akan dijadikan" staf pekerja dari ketiga tokoh pengusaha sederhana tersebut. Pada hari-hari pertama mereka "dipekerjakan" dalam bengkel-bengkel sederhana untuk membuat sepatu anak-anak dan tas. Sebagai lulusan latihan tentunya semua fihak berharap bahwa mereka akan mampu memproduksi sepatu dan tas dengan teliti, rapi dan mempunyai kualitas prima. Mereka juga diharapkan mampu bekerja dengan tingkat kecepatan yang tinggi sehingga menghasilkan jumlah produksi yang lebih tinggi atau minimal sama dengan "bayaran" yang diterimanya sebagai seorang karyawan. Kalau mereka ternyata tidak bisa mempunyai produksi yang seimbang dengan "bayarannya", maka dengan sendirinya perusahaan itu akan menjadi "rugi" mempekerjakan karyawan tersebut. Seorang pekerja diharapkan dapat mengumpulkan upah borongan sesuai dengan kemampuannya, tetapi rata-rata diatas upah minimum yang berlaku di sekitar wilayah tersebut.
Kenyataan yang terjadi dapat ditebak.
Latihan lapangan yang sekaligus dititipkan pada para pengusaha yang peduli itu diikuti dengan penuh ketekunan oleh para pesertanya. Para pengusaha kecil dan menengah tidak saja bertindak sebagai advokator yang berfihak dan membela rakyat saja. Mereka juga harus transparan karena tidak akan bisa menyembunyikan rahasia usahanya dimuka karyawan yang sedang latihan itu. Mereka betul-betul harus bersifat dan bersikap terbuka terhadap tenaga yang dititipkan. Mereka mengambil resiko membesarkan calon saingannya. Dalam hal seperti ini mereka adalah jembatan emas yang menyambung antara advokator dan pemain lapangan yang pantas mendapat bintang. Mereka memberi harapan kepada kader-kader itu dengan tantangan nyata. Kalau para kader bisa "mengalahkan" atau "seimbang" dengan karyawan yang ada, kemungkinan adalah besar bahwa mereka dapat diangkat menjadi pegawai tetap di tempat latihan atau di sekitar tempat latihan yang memang adalah daerah industri kecil dan menengah. Atau kalau beruntung, ada saja yang bisa menariknya menjadi karyawan atau mitra kerja ditempat lainnya. Kalau lamban, malas dan tidak mampu bertahan, menjadi resiko bahwa mereka harus pulang kampung dan menjadi penganggur Dari pengalaman lapangan beberapa hari itu dapat kita lihat peranan kerja keras ini dengan advokasi yang sedang berkembang. Latihan yang dilakukan selama 45 hari dan banyak disertai dengan praktek-praktek kerja, ternyata bisa menjadi jembatan untuk merubah dan mencipta seseorang dari tingkat "penganggur" menjadi seorang pekerja yang bermutu dan produktip. Beberapa orang pemuda yang sedang bekerja keras membuat sepatu-sepatu bayi dan atau tas-tas ibu yang menarik dengan asyik menggelar design dengan segala macam variasinya. Kemampuan mereka membaca design tidak dapat diragukan. Dengan cekatan mereka bisa menggunting bahan-bahan tersebut sesuai design pesanan perusahaan-perusahaan pemasaran yang tersebar di Bogor atau daerah-daerah lainnya. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, seseorang yang duabulan lalu masih menganggur dan tidak yakin apa masa depannya, sekarang dengan mantap "memotong" bahan baku yang relatip mahal harganya. Kalau gagal memotong bahan baku itu, maka dia akan mendapat teguran atau harus bekerja keras mengganti kerugian.
Pada waktu mereka "harus bersaing" dalam kecepatan berproduksi, maka mereka sadar bahwa kemampuan mereka masih jauh tertinggal. Pekerja yang ada bisa mengerjakan pekerjaan yang sama dengan kecepatan antara lima sampai tujuh kali lebih tinggi dibandingkan pemuda-pemuda yang sedang memantapkan dirinya tersebut. Mereka seakan menjadi murid taman kanak-kanak yang sering kebingungan menghadapi masalah-masalah riel dihadapannya. Mereka menjadi kikuk menghadapi mesin jahit dan alat-alat bantu yang ada dihadapannya. Teman di sekelilingnya yang penuh pengalaman memperlakukan mesin jahitnya seperti isteri yang dicintainya. Sebagian kader baru melihat mesin jahit dan alat bantunya seperti momok yang rumit dan menghalangi gerakannya. Lekuk-lekuk sudut sepatu bayi yang kecil dan harus dijahit dengan cermat seakan-akan menjadi lebih kecil dari wujud sebenarnya. Padahal kalau tidak dikerjakan dengan baik, lekuk-lekuk itu bisa menimbulkan luka pada kaki bayi yang mungil. Dan pasti tidak ada orang tua yang akan membeli sepatu dengan bahaya seperti itu. Tukang sepatu yang nampaknya sederhana itu mempunyai tanggung jawab moral untuk melayani pembangunan sumber daya manusia dengan kaki sehat. Mereka yang membuat tas-tas yang cantik, atau tas-tas kerja, atau tas seminar berbagai lembaga yang memesannya, harus pasti bahwa jahitannya lurus, benar dan indah. Tas-tas yang laku jual dan banyak pemakainya, bukan saja secara fungsional memenuhi syarat, tetapi menarik dipandang dan menjadikan pemakainya lebih indah dari keadaan aslinya.
Kerajinan dari para kader, para santri itu, sungguh mengagumkan. Tetapi lebih dari itu, para pengusaha kecil dan menengah, pak Pepen, pak Gandi, dan pak Dedy, adalah bukan para pengusaha yang banyak menerima BLBI, atau penerima kredit dengan berbagai fasilitasnya, tetapi adalah pengusaha sederhana yang mempunyai komitmen tinggi, siap menyumbangkan diri dan perusahaannya menjadi jembatan emas yang indah untuk mewujudkan retorika bermakna menjadi aksi nyata yang mempunyai manfaat luar biasa untuk keluarga miskin yang merupakan mayoritas masyarakat kita di desa-desa yang sangat jauh dari kebisingan politik yang gegap gempita di Jakarta. Mereka adalah para pelaksana yang pantas kita acungi jempol dan kita Haryono Suyono adalah pengamat masalah-masalah sosial kemasyarakatan)

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa......Silahkan komentar jika artikel ini bermanfaat dan maaf komentar yang macam - macam saya hapus

 
Powered by DIAN ISNAN RASBURHANY