Tuesday, 29 March 2016

Cerita : Orang Asing di Jembatan



Malam telah menempuh separuh perjalanannya. Udara dingin pun seakan mengerti isyarat itu dan berkumpul di sekitarku. Membuat mata ini terasa berat tuk menopang kelopaknya lagi. Akhirnya ku memutuskan untuk pulang saat itu juga. Meskipun gelak tawa para pengangguran di sekelilingku itu belum menemukan akhirnya. Mereka adalah teman sebayaku semasa SMA dahulu. Sudah lama kami tak berjumpa. Dan itulah yang terjadi. Kami tertawa semalam suntuk tanpa menghiraukan keadaan dunia yang sudah hampir terlelap dalam kegelapan malam. Kami semua baru tersadar setelah mendengar ocehan-ocehan katak yang tidak rela kami mengganggu keheningan malam. Lagipula, ayah, ibu serta adik dan kakakku sedang pergi ke rumah kerabat sehingga aku dapat pulang telat tanpa ada krtikan.
Akhirnya, dengan susah payah, aku bisa juga melangkah pergi dari tempat itu. Sambil terhuyung-huyung, aku berjalan sambil memikirkan tujuan akhir perjalananku malam ini, yaitu kasur yang tak terlalu empuk namun terasa nyaman bagiku. Meskipun dalam keadaan setengah tersadar, kuayun kaki ini melewati jalan setapak yang berkomposisi sembilan puluh persen tanah dan selebihnya dihiasi rerumputan liar nan indah. Tanah yang basah akibat hujan tadi siang dan aroma rerumputan yang menadah hasil sulingan udara oleh alam menambah dinginnya malam ini.
Sebuah daerah yang kutahu sedari dulu yang hingga hari ini seakan tak mengenal modernisasi. Entah desa ku itu tak terdaftar dalam peta ataukah para pejabat itu terlalu sibuk mengurusi keluarganya dan melupakan keluarga rakyatnya. Dari kejauhan, kulihat sebuah jembatan yang menandai akhir setapak ini. Tak jauh dari jembatan itu, sebuah bangunan tak kecil yang dihiasi tembok cukup tinggi sekelilingnya dapat terlihat dengan jelas, itulah rumahku.
Kupercepat ayunan kakiku agar bisa merasakan lembutnya bantalku lebih cepat. Namun, sesampainya di jembatan itu, kulihat seseorang yang mencurigakan. Berbadan tinggi dan tampangnya menyeramkan. Ia bertubuh kurus dan memakai mantel hujan. Dari raut wajahnya yang dihiasi kumis lebat di atas bibirnya dan beberapa kerutan di dahi dan sekitar matanya, membuat aku lebih mudah menerka bahwa ia sudah berumur 40-an. Dengan keadaan kedinginan, dia berusaha menyapaku,
“Permisi nak, boleh numpang tanya? Kalau rumah nomor 18, sebelah mana ya?”
“Ooh, kalau rumah nomor 18 yang kanan itu pak, yang pagarnya berwarna kuning.” Jawabku sambil menunjuk sebuah rumah yang berada tak jauh dari situ.
“Ooh, yang itu ya. Kalau begitu terima kasih nak.” Orang itu pun pergi, dan aku masih berusaha untuk pulang ke rumah secepatnya. Mata ini sungguh terasa berat.
Akhirnya, aku sampai juga di rumah dan langsung menuju kamar tidur. Kupadamkan semua lampu yang ada di kamarku, dan kunyalakan sebuah lampu kecil untuk menemani tidurku. Aku termasuk orang yang takut pada kegelapan. Bukannya bermaksud kekanak-kanakan, tapi ketakutan itu kan adalah hal yang wajar pada setiap manusia.
Tak lama kemudian, lampu kecilku itu tiba-tiba padam. Akupun panik dan berusaha meraba-raba meja yang berada tepat di samping tempat tidurku. Dari atas meja itu, aku meraih sebuah senter kecil dan menyalakannya. Kuamati sekelilingku yang disesaki kegelapan. Batinku pun bertanya-tanya, hal apakah yang sedang terjadi? Mati lampu di tengah malam begini bukanlah sesuatu yang wajar. Kucoba bangkit dari tempat tidurku untuk menengok ke luar jendela. Aku melihat setiap rumah tetangga untuk mengetahui apakah telah terjadi pemadaman bergilir ataukah ada kesalahan elektris di rumahku. Kulihat satu per satu, ternyata semuanya padam. Namun, ada seseorang di luar sana yang menarik perhatianku. Samar-samar kuamati orang itu. Ia berbadan tinggi, membawa kotak besi, dan memakai mantel hujan.
Pikiranku pun terus bertanya-tanya, siapakah orang itu? Gelagatnya mencurigakan. Ia terus menatap pagar tembok rumah yang ada di depannya. Aku langsung tersentak kaget. Rasa ngantuk yang sedari tadi menyerang seakan menghilang begitu saja. Kejadian ini seperti yang selalu ditampilkan di layar teve. Seseorang bertubuh besar dan mencurigakan sedang mengamati sebuah rumah yang cukup besar.
“Ia pasti pencuri.”, gumamku.
Semakin diperhatikan, perilakunya semakin mencurigakan. Aku tiba-tiba teringat akan seseorang yang kutemui di jembatan saat perjalanan pulang tadi. Itu pasti dia! Kulihat ia mengambil sesuatu dalam kotak besi yang dari tadi dibawanya. Ia meraih seutas tali dari dalam kotak besi itu. Aku pun semakin yakin bahwa ia seorang pencuri. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuju ruang keluarga untuk meraih telepon. Kubuka catatan kecil yang ada di samping pesawat telepon itu dan mencari nomor yang kuharap bisa membantu menangkap pencuri itu. Dapat! Ada sebuah nomor seorang tetanggaku yang kebetulan adalah seorang polisi.
“Halo, ini dengan Mas Ari, ya?”
“Iya, benar. Ini siapa?” dengan suara berat aku berpikir bahwa ia sudah terlelap tadinya.
“Maaf mas, ini Tio. Tio sedang ada di rumah sendirian. Terus, tiba-tiba mati lampu dan saat kulihat ke luar, ada seseorang yang mencurigakan mengintai rumah di depan rumah Tio.”
“Dia seperti apa?”
“Dia tinggi, terus pakai mantel sambil bawa kotak besi.”
“Oh, kalau begitu, kamu sekarang bertugas mengawasi segala gerak-geriknya dan menunggu sampai aku datang, oke?”
“Oke mas!”
Setelah teleponnya kututup, aku langsung berlari menuju jendela kamarku lagi untuk memperhatikan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tak lama kemudian, seseorang yang mengendarai motor berhenti di dekatnya. Aku kemudian mengenali orang itu sebagai Mas Ari. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari keluar rumah dan menghampiri mereka. Mungkin aku bisa menolong Mas Ari menangkap pencuri itu.
Sesampainya di sana, Mas Ari mengenalkan aku dengan orang itu. Ternyata, dia bukan pencuri. Dia adalah seorang teknisi yang diutus oleh PLN untuk mengecek keadaan gardu listrik di daerah itu. Kebetulan gardu listrik itu berada di samping pagar tembok rumah itu. Jadi, dia bermaksud memanjat pagar tembok itu untuk naik ke atas tiang listrik.
Ia terpaksa bertugas hingga larut malam karena ia juga harus mengecek keadaan daerah lain. Aku pun merasa malu dan segera meminta maaf kepada bapak itu karena sudah berprasangka yang tidak-tidak. Untung saja teknisi itu orang baik dan memaafkan kesalahpahaman yang terjadi malam itu. Aku juga meminta maaf kepada Mas Ari karena telah membangunkannya tengah malam begini dan hampir salah menangkap orang. Kejadian malam ini adalah satu pelajaran berarti untukku. Untuk tidak berprasangka buruk kepada orang lain sebelum mencari tahu apa yang sebenarnya dia lakukan.

                                                                                  Oleh Mukhtasar Mashaf Ahmad

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa......Silahkan komentar jika artikel ini bermanfaat dan maaf komentar yang macam - macam saya hapus

 
Powered by DIAN ISNAN RASBURHANY